Program Makan Bergizi Gratis: Hebat, Tapi Siswa Masih Belajar di Kelas Panas dan Rusak?
Pendidikan

Program Makan Bergizi Gratis: Hebat, Tapi Siswa Masih Belajar di Kelas Panas dan Rusak?

Bayangkan anak kamu masuk sekolah pagi-pagi, perut kosong karena sarapan di rumah ala kadarnya. Tapi di sekolah, ada makan siang bergizi gratis yang nunggu. Senang, kan? Itulah janji besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang jadi andalan pemerintah sekarang.

Tapi, tunggu dulu. Di sisi lain, banyak anak yang belajarnya sambil keringetan di kelas panas tanpa AC, atau bahkan di ruang yang atapnya bocor. Pemerintah dinilai terlalu fokus ke MBG, sementara infrastruktur sekolah masih banyak yang memprihatinkan. Benarkah begitu? Yuk, kita bahas santai tapi jujur soal program Makan Bergizi Gratis ini.

Program MBG ini resmi jalan sejak awal 2025, dan di 2026 sudah makin masif. Tujuannya mulia banget: ngasih makan bergizi gratis buat anak sekolah, balita, ibu hamil, sampai ibu menyusui. Pemerintah bilang, ini buat ngatasin stunting dan bikin anak lebih fokus belajar karena perut kenyang.

Sampai Februari 2026, program ini sudah jangkau puluhan juta anak. Ada ribuan dapur khusus (SPPG) yang operasional, dan bahkan ciptain lapangan kerja buat banyak orang. Presiden Prabowo sering sidak ke sekolah-sekolah buat pastiin program ini lancar.

Prabowo Kunjungi SDN Kedung Jaya Bogor, Pastikan Program MBG …

Manfaat Program MBG yang Nyata di Lapangan

Gak bisa dipungkiri, program Makan Bergizi Gratis ini punya dampak positif. Banyak guru cerita, anak-anak jadi lebih semangat belajar karena gak lagi kelaperan. Konsentrasi naik, prestasi bisa ikut naik.

Survei terbaru bilang mayoritas orang tua puas dengan program ini. Apalagi buat keluarga kurang mampu, beban belanja makanan berkurang. UMKM lokal juga kecipratan untung karena bahan makanan banyak dibeli dari mereka.

Contohnya, menu MBG biasanya ada nasi, lauk protein seperti ayam atau ikan, sayur, plus buah. Gizi seimbang, kan? Ini beneran membantu generasi muda kita lebih sehat.

Tapi, gak semua mulus. Ada kasus keracunan massal di beberapa daerah, meski pemerintah bilang itu insiden kecil dan sudah ditangani. Yang penting, program ini terus berjalan dan diperbaiki.

Kenapa Ada Kritik: Fokus MBG vs Kenyamanan Belajar Siswa

Nah, di sinilah muncul suara kritis. Banyak yang bilang pemerintah terlalu sibuk urus logistik makanan, tapi lupa pastiin anak-anak belajar di tempat yang nyaman.

Data terbaru nunjukin, ada sekitar 1,2 juta ruang kelas di Indonesia yang rusak sedang sampai berat. Itu artinya ratusan ribu sekolah masih bermasalah. Anak-anak belajar di kelas panas, bocor, bahkan ada yang duduk di lantai atau pindah ke tenda darurat.

Bayangin, siang hari suhu kelas bisa 35 derajat lebih. Anak-anak kipas-kipas pake buku, susah fokus. Belum lagi kalau hujan, kelas banjir atau atap bocor. Ini beneran terjadi di banyak daerah, dari Jawa sampai Papua.

Kritik makin kencang karena anggaran pendidikan besar banget dialihin ke MBG. Di APBN 2026, hampir sepertiga dana pendidikan dipake buat program ini. Ada yang sampe gugat ke MK, bilang ini melanggar aturan 20% anggaran buat pendidikan.

Mereka argue, dana segitu bisa dipake buat perbaiki sekolah, naikkin gaji guru honorer, atau beasiswa. Intinya, makan gratis penting, tapi tempat belajar yang layak juga gak kalah urgent.

Kondisi Ruang Kelas di Indonesia: Masih Jauh dari Ideal

Fakta di lapangan emang miris. Hanya sekitar 40% ruang kelas SD yang kondisinya baik. Sisanya? Rusak ringan sampai berat. Di SMP juga gak jauh beda.

Di daerah terpencil, ada sekolah yang bangunannya udah puluhan tahun gak direnovasi. Guru dan murid harus improvisasi: belajar di masjid, di bawah pohon, atau gubuk sementara.

Ini bukan cuma soal kenyamanan. Kelas yang gak layak bisa bahaya buat kesehatan dan keselamatan anak. Panas ekstrem bikin dehidrasi, bocor bikin licin dan rawan kecelakaan.

Padahal, anak yang nyaman belajar pasti lebih optimal menyerap pelajaran. Gizi bagus dari MBG jadi sia-sia kalau badan capek karena lingkungan belajar yang buruk.

Upaya Pemerintah: Ada Revitalisasi Sekolah di 2026

Untungnya, pemerintah gak diam aja. Di 2026, ada program besar revitalisasi sekolah. Targetnya perbaiki puluhan ribu satuan pendidikan, termasuk ruang kelas rusak.

Usulan perbaikan sekarang lebih gampang lewat aplikasi online. Harapannya, sekolah-sekolah bisa cepet dapet bantuan renovasi.

Ini langkah bagus. Kalau jalan lancar, banyak anak bakal belajar di kelas baru yang lebih aman dan nyaman. Pemerintah bilang, MBG dan revitalisasi ini saling dukung, bukan saingan.

Jadi, Seimbang Gak Sih Prioritasnya?

Program Makan Bergizi Gratis emang program bagus yang layak diapresiasi. Banyak anak yang terbantu, dan ini investasi jangka panjang buat kesehatan bangsa.

Tapi kritik soal prioritas juga masuk akal. Gak bisa kita abaikan fakta bahwa ratusan ribu ruang kelas masih rusak. Anak butuh perut kenyang dan tempat belajar yang nyaman.

Idealnya, dua-duanya jalan bareng tanpa saling “gerebek” anggaran. Pemerintah harus pastiin dana pendidikan beneran seimbang: gizi anak penting, tapi infrastruktur dasar juga gak boleh tertinggal.

Kamu sebagai orang tua atau guru, gimana pendapatnya? Apakah MBG di sekolah anakmu udah jalan baik? Atau masih ada keluhan soal fasilitas? Share di komentar ya, biar kita diskusi bareng.

Intinya, program Makan Bergizi Gratis ini langkah maju, tapi jangan sampe bikin kita lupa bahwa anak-anak juga berhak belajar dengan nyaman. Semoga ke depan, semua anak Indonesia bisa makan kenyang di kelas yang sejuk dan aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *