Jepang Tidak Lagi Memiliki Giant Panda: Semua Panda Dikembalikan ke China
Travel

Jepang Tidak Lagi Memiliki Giant Panda: Semua Panda Dikembalikan ke China

Pada 27 Januari 2026, dua giant panda kembar terakhir di Jepang, Xiao Xiao dan Lei Lei, meninggalkan Kebun Binatang Ueno di Tokyo menuju China. Mereka tiba di Sichuan keesokan harinya setelah penerbangan khusus. Peristiwa ini menandai akhir kehadiran giant panda di Jepang selama lebih dari 50 tahun, tepatnya sejak 1972. Jepang tidak lagi memiliki giant panda untuk pertama kalinya dalam setengah abad.

Xiao Xiao (jantan) dan Lei Lei (betina) lahir di Ueno Zoo pada Juni 2021. Mereka menjadi daya tarik utama setelah orang tua mereka, Shin Shin dan Ri Ri, kembali ke China pada September 2024. Kakak perempuan mereka, Xiang Xiang, sudah pulang pada Februari 2023. Empat panda lain di Adventure World, Wakayama, juga dikembalikan pada Juni 2025. Kerumunan pengunjung memadati zoo untuk pamitan terakhir, menunjukkan betapa mendalamnya cinta masyarakat Jepang terhadap hewan ikonik ini. Jepang tidak lagi memiliki giant panda, dan prospek kembalinya terasa suram di tengah ketegangan bilateral dengan China.

Sejarah Kedatangan Giant Panda Pertama di Jepang

China menghadiahkan panda pertama ke Jepang pada Oktober 1972. Kang Kang (jantan) dan Lan Lan (betina) tiba di Ueno Zoo untuk memperingati normalisasi hubungan diplomatik pasca-Perang Dunia II. Pengunjung langsung membanjiri zoo, dengan antrean mencapai dua kilometer. Pasangan ini populer meski Lan Lan meninggal lebih dulu pada 1979.

Ueno Zoo menjadi pusat panda di Jepang. Mereka membangun rumah panda khusus dengan dinding kaca pada 1973. Selanjutnya, China mengirim pasangan lain seperti Fei Fei dan Huan Huan, yang berhasil menghasilkan keturunan. Tong Tong lahir pada 1986 dan You You pada 1988. Panda-panda ini memperkuat simbol persahabatan, meski semua tetap dimiliki China di bawah skema pinjaman jangka panjang.

Adventure World di Shirahama, Wakayama, juga menerima panda sejak 1994. Kebun binatang swasta ini berhasil membiakkan beberapa individu, termasuk pasangan populer yang melahirkan anak. Total, sekitar 22 giant panda tercatat lahir di kebun binatang Jepang sejak 1980-an, meskipun sebagian besar kembali ke China setelah dewasa.

Perkembangan Populasi Panda di Kebun Binatang Jepang

Jepang pernah menampung hingga puluhan panda di puncaknya, terutama di Ueno dan Adventure World. Pinjaman biasanya berlangsung 10 tahun dengan biaya sekitar satu juta dolar AS per tahun per pasangan, yang China gunakan untuk program konservasi. Beberapa panda lahir di Jepang mencapai usia dewasa dan menjadi bintang media, seperti Xiang Xiang yang lahir 2017 dan langsung viral.

Namun, populasi menurun bertahap karena kontrak berakhir dan kebijakan China yang lebih ketat. Pada 2023, Xiang Xiang pulang lebih awal. Orang tuanya, Shin Shin dan Ri Ri (tiba 2011), menyusul September 2024. Pada Juni 2025, keempat panda di Adventure World kembali ke China sebelum kontrak habis. Hanya Xiao Xiao dan Lei Lei yang tersisa hingga akhir Januari 2026. Jepang tidak lagi memiliki giant panda setelah momen tersebut.

Kisah Panda Terakhir: Xiao Xiao dan Lei Lei

Xiao Xiao dan Lei Lei lahir dari Shin Shin dan Ri Ri pada 2021. Kembar ini tumbuh di hadapan pengunjung Ueno Zoo, menjadi favorit anak-anak dan keluarga. Mereka aktif bermain, makan bambu, dan tidur khas panda. Popularitas mereka melonjak saat orang tua pulang, membuat mereka satu-satunya panda di Jepang sejak pertengahan 2025.

Pengumuman pemulangan dipercepat pada Desember 2025 memicu antusiasme. Ribuan orang mengantre berjam-jam untuk melihat mereka terakhir kali. Beberapa memenangkan undian terbatas untuk sesi pamitan khusus. Video dan foto mereka beredar luas di media sosial, menunjukkan ikatan emosional masyarakat Jepang. Pada 27 Januari 2026, mereka diangkut ke Bandara Narita dan terbang ke Sichuan.

Proses Pengembalian Panda dan Reaksi Masyarakat Jepang

Proses pengembalian melibatkan persetujuan kedua pemerintah. Panda diangkut dengan kandang khusus, kemudian pesawat charter. Di China, mereka menjalani karantina di pusat Ya’an, Sichuan, sebelum bergabung dengan keluarga mereka.

Reaksi di Jepang campur aduk. Penggemar menangis, membawa plakat ucapan selamat jalan. Zoo mencatat lonjakan pengunjung hingga ratusan ribu di bulan-bulan terakhir. Namun, ada kekecewaan karena hilangnya atraksi utama. Banyak yang berharap China mengirim panda baru, meski prospeknya rendah.

Alasan Utama Pengembalian ke China

Kontrak pinjaman berakhir menjadi alasan utama. Panda tetap milik China; Jepang hanya meminjam. Biaya tahunan dan ketentuan pengembalian ketat. Selain itu, ketegangan diplomatik mempercepat proses. Isu Taiwan, Laut China Timur, dan persaingan geopolitik memengaruhi diplomasi panda. China memilih mempercepat pemulangan daripada memperpanjang.

Ini bukan kasus pertama. Banyak negara mengalami hal serupa ketika hubungan memburuk atau kontrak habis. Jepang tidak lagi memiliki giant panda sebagai hasilnya.

Dampak Ekonomi dan Pariwisata bagi Jepang

Ueno Zoo dan Adventure World kehilangan daya tarik utama. Panda menyumbang jutaan pengunjung tahunan. Penurunan pengunjung diperkirakan signifikan, memengaruhi pendapatan tiket, souvenir, dan pariwisata lokal. Tokyo Metropolitan Government harus mencari alternatif atraksi baru.

Secara nasional, simbol persahabatan hilang. Industri hiburan dan media yang sering menampilkan panda juga terdampak. Namun, beberapa zoo berencana fokus pada spesies langka lain untuk mempertahankan pengunjung.

Status Konservasi Giant Panda Global dan Peran China

China berhasil meningkatkan populasi panda liar menjadi lebih dari 1.800 individu pada 2020-an. Status IUCN berubah dari endangered ke vulnerable berkat program pembiakan, habitat protection di Sichuan, Shaanxi, dan Gansu. Pusat seperti Bifengxia dan Ya’an menjadi pusat utama.

China tetap mengendalikan semua panda di dunia. Program pinjaman mendukung konservasi sambil memperkuat diplomasi lunak. Jepang tidak lagi memiliki giant panda membuat banyak orang beralih ke China untuk melihat mereka secara langsung.

Masa Depan Diplomasi Panda dan Hubungan Sino-Jepang

China menyambut wisatawan Jepang ke pusat panda Sichuan. Namun, pengiriman panda baru ke Jepang tampak sulit tanpa perbaikan hubungan bilateral. Diplomasi panda tetap alat politik efektif, namun sensitif terhadap isu geopolitik. Jepang mungkin mengeksplorasi kolaborasi riset jarak jauh atau program adopsi virtual.

Jepang tidak lagi memiliki giant panda, tapi warisan budaya dan kenangan tetap hidup. Masyarakat dapat terus mendukung konservasi melalui donasi atau kunjungan ke China.

Dalam kesimpulan, Jepang tidak lagi memiliki giant panda setelah Xiao Xiao dan Lei Lei pulang pada Januari 2026. Sejarah panjang sejak 1972, keberhasilan pembiakan, dan akhir yang dipengaruhi diplomasi menutup bab penting. Penggemar tetap bisa mengunjungi panda di China sambil mendukung upaya global melindungi spesies ini. Semoga hubungan kedua negara membaik dan membuka peluang baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *