Fenomena ini menggabungkan nostalgia budaya dengan kekuatan media sosial. Banyak warga kota merindukan tradisi desa yang menghangatkan. Daidai tak menyangka ajakan bantuannya berubah jadi event besar yang mendatangkan keuntungan fantastis. Live streaming-nya meraup 6 juta yuan dalam tiga hari. Kini, gumpalan tanah dari pekarangannya laku sebagai simbol kemakmuran. Cerita Daidai mengajak kita memahami bagaimana tradisi lama bertemu tren digital di China modern.
Apa Itu Tradisi Sembelih Babi di Pedesaan China?
Tradisi sembelih babi atau sha zhu fan menjadi ritual penting di wilayah Sichuan dan Chongqing menjelang Tahun Baru Imlek. Keluarga membesarkan babi sepanjang tahun, lalu menyembelihnya bersama tetangga atau kerabat. Proses ini bukan sekadar mempersiapkan daging, melainkan momen syukur atas panen dan ikatan komunal.
Masyarakat memasak paozhutang dalam panci besar. Hidangan mencakup daging babi dua kali dimasak, iga kukus, sup dengan jeroan, tahu darah, dan sayuran segar. Mereka tambahkan arak buatan sendiri. Acara ini mempererat persahabatan. Orang-orang saling bantu memotong, mengaduk, dan menyajikan. Di era urbanisasi, tradisi ini semakin langka karena generasi muda pindah ke kota.
Ritual ini melambangkan kelimpahan dan kebersamaan. Ayah Daidai kesulitan melakukannya sendirian. Itu menjadi alasan utama ia meminta bantuan secara online. Banyak warga merasa terhubung dengan kenangan masa kecil mereka melalui acara seperti ini.
Kisah Daidai: Dari Permohonan Bantuan hingga Viral di Douyin
Daidai mengunggah video pendek di Douyin pada 9 Januari 2026. Ia mengungkapkan kekhawatiran atas kondisi ayahnya yang semakin lemah. “Ayah saya sudah tua, saya khawatir dia tak sanggup menahan babi-babi itu,” katanya. Ia mengundang siapa saja datang membantu dengan janji hidangan paozhutang gratis.
Video itu langsung meledak. Dalam 48 jam, ia meraup hampir setengah juta like. Ribuan orang dari berbagai penjuru China berbondong-bondong ke desanya. Daidai awalnya hanya mengharapkan segelintir tetangga. Namun, antusiasme publik melebihi ekspektasi. Platform Douyin mempercepat penyebaran berkat algoritma yang menyukai konten emosional dan autentik.
Daidai aktif berinteraksi dengan calon pengunjung. Ia memperingatkan soal kemacetan dan kondisi jalan pedesaan. Postingannya menyentuh hati banyak orang yang merindukan suasana desa tradisional. Ini menjadi titik balik kariernya sebagai influencer.
Pesta Sembelih Babi yang Menggemparkan Desa Qingfu
Acara puncak berlangsung 11 Januari 2026. Lebih dari 1.000 pengunjung tiba dengan mobil yang mengular hingga 2 kilometer. Kemacetan mencapai 10 kilometer di beberapa laporan. Daidai memasak 500 kg beras untuk tamu. Pemerintah lokal menyumbang tiga ekor babi tambahan agar semua bisa ikut merasakan tradisi. Mereka menyembelih total lima ekor babi.
Live streaming menarik lebih dari 100.000 penonton secara simultan. Video itu mendapat 20 juta like. Pengunjung berpartisipasi memotong daging, memasak, dan menikmati hidangan bersama. Suasana penuh tawa dan kehangatan. Polisi tambahan dikerahkan untuk mengamankan area. Pemerintah setempat melihatnya sebagai peluang pariwisata kilat.
Daidai mengucapkan terima kasih kepada petugas dan warga yang membantu. Acara ini sukses besar meski menantang logistik desa kecil.
Lonjakan Pengikut dan Pendapatan Daidai sebagai Influencer
Daidai kini memiliki lebih dari dua juta pengikut di akun media sosialnya. Live streaming selama tiga hari menghasilkan enam juta yuan, setara sekitar Rp14,4 miliar. Pendapatan ini berasal dari donasi virtual, gift, dan penjualan selama siaran.
Kesuksesan finansial ini mengubah hidupnya secara dramatis. Daidai belum berniat bergabung dengan perusahaan MCN (multi-channel network) besar. Ia ingin memastikan rencana masa depan yang tepat. Ia juga berharap kehidupan orang tuanya kembali normal setelah hiruk-pikuk ini.
Banyak viewer terinspirasi melihat bagaimana konten autentik bisa mendatangkan keuntungan besar. Daidai menjadi contoh influencer yang memanfaatkan momen budaya lokal.
Fenomena Jimat Tanah Keberuntungan yang Laris Manis
Setelah event viral, tanah di depan rumah Daidai berubah status. Gumpalan tanah dijual hingga 18 yuan (sekitar Rp50 ribu) per gram sebagai jimat keberuntungan. Di platform second-hand seperti Xianyu, paket 50 gram dijual 66,66 yuan hingga 888 yuan. Angka 6 dan 8 dipilih karena melambangkan kemakmuran dalam budaya China.
Penjual mengklaim sebagai tetangga Daidai. Mereka bilang tanah tersebut “disentuh dan disucikan” oleh Daidai sendiri. Beberapa menawarkan video bukti penggalian langsung dari lokasi. Produk dipromosikan sebagai “tanah kemakmuran” yang bisa mendatangkan kekayaan seperti pengalaman Daidai. Pembeli memburu tanah ini karena FOMO dan kepercayaan pada energi tempat sukses.
Fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya simbol baru muncul dari event viral. Tanah biasa kini menjadi komoditas berharga.
Dampak Sosial dan Ekonomi terhadap Desa dan Masyarakat Lokal
Desa Qingfu mengalami lonjakan pengunjung mendadak. Pariwisata flash ini mendatangkan pendapatan tambahan bagi warga. Namun, kemacetan dan keramaian mengganggu rutinitas harian. Daidai merasa kewalahan dengan perhatian besar.
Pemerintah lokal mendukung dengan menyumbang babi dan keamanan. Event ini mempromosikan budaya pedesaan ke skala nasional. Banyak pengunjung merasa puas mendapatkan pengalaman autentik yang jarang ditemui di kota.
Secara lebih luas, kisah ini merefleksikan kerinduan masyarakat China akan komunitas di tengah urbanisasi pesat. Generasi muda melihat nilai dalam tradisi leluhur.
Fenomena Copycat dan Risiko yang Muncul
Kesuksesan Daidai menginspirasi event serupa. Di Jiangxi, satu acara menarik 40.000 pengunjung hingga terjadi kerusuhan berebut makanan. Di Hunan, influencer lain mengadakan pesta daging babi serupa.
Risiko keselamatan meningkat. Kemacetan, kerumunan, dan logistik yang tak memadai bisa menimbulkan masalah. Beberapa ahli mengingatkan pentingnya perencanaan matang sebelum mengadakan event besar. Daidai sendiri memperingatkan pengunjung soal kondisi jalan.
Fenomena copycat menunjukkan kekuatan tren viral sekaligus bahayanya jika tak dikelola dengan baik.
Makna Budaya dan Nostalgia di Era Digital
Tradisi sembelih babi mencerminkan nilai gotong royong dan syukur. Di tengah kemajuan teknologi, event Daidai menghidupkan kembali kenangan kolektif tentang kehidupan desa. Banyak peserta datang untuk merasakan kehangatan komunal yang hilang di kota besar.
Douyin memainkan peran kunci. Platform ini menghubungkan jutaan orang dengan konten autentik pedesaan. Kisah ini membuktikan bahwa tradisi lama bisa bertahan dan bahkan berkembang melalui media sosial.
Daidai tidak hanya menciptakan event, tapi juga menjadi simbol bagaimana generasi muda bisa menjembatani masa lalu dan masa kini.
Kesimpulan
Kisah Daidai mengilustrasikan transformasi dramatis dari permohonan bantuan sederhana menjadi fenomena nasional. Tradisi sembelih babi yang kaya makna berubah jadi sumber inspirasi dan keuntungan melalui kekuatan influencer. Jimat tanah keberuntungan menjadi bukti bagaimana simbol baru lahir dari event viral.
Fenomena ini menawarkan pelajaran tentang keseimbangan antara pelestarian budaya, peluang ekonomi, dan pengelolaan risiko di era digital. Anda bisa mengapresiasi tradisi serupa di komunitas Anda atau mengikuti update Daidai di Douyin untuk melihat perkembangan selanjutnya. Jangan lewatkan tren budaya yang menyentuh hati seperti ini.

