Prilly Latuconsina baru saja memicu kontroversi besar setelah mengaktifkan fitur Open To Work di profil LinkedIn-nya. Banyak netizen langsung menyerangnya karena langkah itu ternyata bagian dari gimmick iklan. Publik menilai Prilly kurang sensitif terhadap kesulitan mencari kerja yang dialami jutaan orang Indonesia. Alih-alih mendapat dukungan, aksi ini menuai hujatan keras. Pacarnya, Omara Esteghlal, ikut membela dengan komentar yang justru memperkeruh suasana. Kontroversi Prilly Latuconsina Open To Work ini merefleksikan ketegangan antara personal branding selebriti dan realita sosial.
Kejadian ini terjadi di awal Februari 2026. Prilly, yang dikenal sebagai aktris sukses sekaligus pengusaha, memasang badge hijau #OpenToWork. Netizen cepat menyadari ini bukan pencarian kerja sungguhan melainkan promosi. Kritik membanjiri Instagram dan platform lain. Omara Esteghlal, aktor muda yang menjadi pasangannya, membalas komentar negatif dengan menyoroti akun palsu. Responsnya malah memicu perdebatan baru. Kasus ini menyoroti bagaimana selebriti harus menavigasi empati di era media sosial yang cepat bereaksi.
Siapa Prilly Latuconsina dan Omara Esteghlal
Prilly Latuconsina lahir pada 1992 dan sudah malang melintang di industri hiburan Indonesia sejak remaja. Ia membintangi berbagai film dan serial populer, sekaligus mendirikan beberapa perusahaan. Prilly juga aktif sebagai penulis buku, produser, dan pecinta laut yang bersertifikat rescue diver. Karirnya menunjukkan semangat kewirausahaan yang kuat. Ia sering berbagi insight motivasi melalui media sosial.
Omara Esteghlal, lahir tahun 1999, memulai karir akting sejak 2011. Ia tampil di berbagai judul film dan sinetron. Omara dikenal fokus pada pendidikan di samping akting. Hubungan keduanya menjadi sorotan publik sejak awal terungkap. Mereka sering muncul bersama dalam konten ringan yang menampilkan chemistry alami. Pasangan ini kerap mendapat pujian atas dukungan timbal balik. Namun, kontroversi terkini menguji ketangguhan mereka di mata publik.
Keduanya memiliki basis penggemar loyal. Prilly dikenal sebagai sosok mandiri yang menginspirasi perempuan muda. Omara lebih pendiam namun konsisten dalam proyeknya. Profil mereka sebagai selebriti muda sukses membuat aksi Open To Work Prilly terasa kontras dengan realita banyak followers yang kesulitan ekonomi.
Apa Itu Fitur Open To Work di LinkedIn
Fitur Open To Work memungkinkan pengguna LinkedIn menandai profil mereka terbuka untuk peluang kerja. Badge hijau muncul di foto profil dan memberi sinyal kepada recruiter. Pengguna bisa memilih visibilitas publik atau hanya untuk recruiter. LinkedIn meluncurkan fitur ini untuk membantu pencari kerja selama pandemi. Jutaan orang menggunakannya secara global setiap tahun.
Di Indonesia, fitur ini semakin populer di kalangan fresh graduate dan pekerja yang ingin pindah karir. Namun, fitur ini juga rentan disalahgunakan untuk promosi. Beberapa brand memanfaatkannya sebagai gimmick kreatif. Kasus Prilly Latuconsina Open To Work menjadi contoh bagaimana fitur profesional bisa berubah menjadi kontroversi ketika dipakai selebriti. Pengguna harus memahami etika platform agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
LinkedIn menekankan transparansi. Pengguna bisa mengedit status kapan saja. Namun, ketika status itu terungkap sebagai bagian iklan, kepercayaan publik mudah goyah. Fitur ini tetap berguna bagi jutaan pencari kerja sungguhan di Indonesia.
Kronologi Kejadian Prilly Latuconsina Open To Work
Prilly mengaktifkan badge Open To Work di LinkedIn awal 2026. Ia menyebut ingin mencoba pengalaman sebagai sales offline. Publik awalnya mengira ini pencarian kerja serius. Tak lama, terungkap ini bagian gimmick iklan pasta gigi atau kampanye produk. Prilly bahkan melaporkan menerima sekitar 30 ribu tawaran kerja dari berbagai pihak, termasuk media dan organisasi lingkungan.
Kabar ini menyebar cepat di Instagram dan X. Netizen mulai mengaitkan dengan kesulitan ekonomi nasional. Beberapa artikel menyebut Prilly terkejut dengan banjir tawaran. Namun, penjelasan itu tak meredam amarah. Kritik membanjiri komentar Instagram Prilly. Omara Esteghlal kemudian turun tangan membela. Ia membalas satu komentar yang menggunakan akun anonim. Kasus ini meledak dalam hitungan hari dan menjadi trending topic.
Timeline singkat menunjukkan cepatnya reaksi media sosial. Dari aktivasi badge hingga hujatan massal hanya butuh waktu singkat. Ini menggambarkan dinamika opini publik di era digital.
Alasan Utama Netizen Mengkritik Prilly
Netizen menyoroti kurangnya empati Prilly. Banyak yang beranggapan aksi ini memojokkan pencari kerja sungguhan yang kesulitan. Di tengah tingginya kompetisi kerja, gimmick selebriti terasa seperti ejekan. Mereka menilai Prilly seharusnya lebih peka terhadap isu sosial. Beberapa komentar menyebut ini bentuk privilege yang tak disadari.
Kritik lain menyinggung transparansi. Publik merasa ditipu oleh status yang seolah asli. Ketika terungkap sebagai iklan, kepercayaan terhadap personal branding Prilly menurun. Netizen juga membandingkan dengan selebriti lain yang pernah menuai kontroversi serupa. Mereka menuntut aktris lebih bertanggung jawab atas pengaruhnya terhadap followers muda.
- Kurang sensitif terhadap pengangguran massal
- Gimmick iklan yang terasa memanfaatkan platform profesional
- Dampak negatif pada citra sebagai role model
Alasan-alasan ini tersebar luas dan menciptakan narasi kolektif di media sosial.
Respons dan Pembelaan Omara Esteghlal
Omara Esteghlal membalas komentar negatif dengan tegas. Ia meminta kritikus menggunakan akun asli: “pake akun asli dong kalau mau ikut mengkritik, jangan sembunyi di balik akun bodong”. Komentar ini bertujuan melindungi Prilly dari serangan anonim. Namun, banyak yang menilai respons Omara malah memperkeruh suasana. Alih-alih meredam, komentar tersebut memicu perdebatan baru tentang etika membalas netizen.
Publik melihat pembelaan Omara sebagai bentuk defensif berlebihan. Beberapa menganggap ini memperburuk citra pasangan tersebut. Omara biasanya low-profile, sehingga keterlibatannya mengejutkan. Respons ini menambah layer kontroversi dan memperpanjang diskusi online.
Dampak Kontroversi di Media Sosial
Kontroversi Prilly Latuconsina Open To Work menyebar ke berbagai platform. Instagram penuh komentar kritis. X dan TikTok membahas dengan meme dan video reaksi. Beberapa pendukung Prilly membela dengan menyebut hak selebriti bereksperimen. Namun, suara kritis lebih dominan. Dampaknya termasuk penurunan engagement sementara di akun Prilly.
Kasus ini menjadi pelajaran tentang risiko personal branding. Selebriti harus mempertimbangkan konteks sosial sebelum kampanye kreatif. Diskusi juga meluas ke topik privilege di industri hiburan. Netizen menuntut lebih banyak empati dari figur publik.
Konteks Pasar Kerja Indonesia Saat Ini
Indonesia mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) 4,85 persen pada Agustus 2025 menurut BPS. Angka ini turun tipis dari tahun sebelumnya namun masih menyisakan 7,46 juta pengangguran. Banyak fresh graduate kesulitan mendapat pekerjaan formal. Sektor informal mendominasi, sementara pekerja paruh waktu meningkat.
Tantangan utama meliputi mismatch skill, persaingan ketat, dan dampak digitalisasi. Kaum muda merasa khawatir dengan prospek karir. Di tengah kondisi ini, aksi gimmick selebriti mudah dipandang tidak sensitif. Statistik BPS menunjukkan proporsi pekerja formal hanya sekitar 42 persen. Kondisi ini membuat netizen semakin vokal terhadap isu ketenagakerjaan.
Pelajaran Penting yang Dapat Diambil
Kasus ini mengajarkan pentingnya transparansi dalam kampanye. Selebriti sebaiknya menghindari elemen yang bisa disalahartikan sebagai pencarian kerja sungguhan. Brand juga perlu mempertimbangkan sensitivitas sosial saat melibatkan influencer. Pengguna LinkedIn disarankan memisahkan konten promosi dari fitur profesional.
Lebih luas, kontroversi mendorong diskusi tentang empati digital. Figur publik memiliki tanggung jawab besar karena pengaruhnya. Netizen diingatkan untuk tetap kritis namun konstruktif. Kasus Prilly Latuconsina Open To Work menjadi contoh bagaimana satu postingan bisa memicu gelombang opini nasional.
Di masa depan, selebriti perlu berkonsultasi dengan tim PR sebelum eksperimen serupa. Pendekatan yang lebih inklusif bisa mengubah gimmick menjadi kampanye positif yang mendukung pencari kerja.
Kesimpulan
Kontroversi Prilly Latuconsina Open To Work menunjukkan betapa sensitifnya isu ketenagakerjaan di Indonesia. Kritik netizen berasal dari rasa kecewa atas kurangnya empati, sementara pembelaan Omara Esteghlal malah memperkeruh suasana. Kasus ini mengingatkan semua pihak untuk lebih peka terhadap konteks sosial. Selebriti, brand, dan netizen sama-sama bertanggung jawab menciptakan diskusi yang sehat. Di tengah tantangan pasar kerja dengan 7,46 juta pengangguran, empati tetap menjadi kunci utama.

